Nama Pengarang : Tulis Sutan Sati
Nama Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1929
Tebal Buku : 192
Angkatan : 20an
Tokoh Utama :
- Midun : Sopan & Taat beragama
- Kacak : Pendengki & Angkuh
- Halimah : Bebudi & Sopan
- Syekh Abdul : Licik
- Midun : Sopan & Taat beragama
- Kacak : Pendengki & Angkuh
- Halimah : Bebudi & Sopan
- Syekh Abdul : Licik
Di
Minangkabau (Sumatra Barat) terdapat sebuah desa. Di desa tersebut hiduplah dua
pemuda yang memiliki sifat yang sama sekali bertolak belakang. Pemuda pertama
itu bernama Kacak. Ia merupakan keponakan dari seorang kepala kampung. Ia biasa
memmanggil pamannya dengan sebutan Mamak. Namun nama asli dari paman Kacak
ialah Tuanku Laras. Kacak merupakan pemuda yang sombong, angkuh, kasar, dan
tidak suka dengan setiap kebahagiaan orang lain. Pemuda yang kedua bernama
Midun. Ia merupakan pemuda yang sangat ramah, baik hati, religius,dan sopan.
Sifatnya yang dapat dikatakan sangat baik serta kelebihannya dalam beladiri
silat membuat banyak orang yang menyukainya.
Tentunya
dengan sifat sifat yang bisa dikatakan jelek pada Kacak membuat warga desa amat
sangat membencinya. Dan tidak sedikit pula yang menyukai sifat sifat baik yang
dimiliki Midun.
Kacak
amat iri pada si Midun karena banyak penduduk desa yang lebih suk dan simpai
kepada Midun dibandingkan dengan dirinya. Hingga timbullah sebuah rasa ingin
puas dengan menantang si Midun untuk berkelahi serta membuat berbagai macam
keonaran.
Pada
suatu hari Kacak menantang Midun untuk meladeninya untuk berkelahi. Namun Midun
selalu menolak ajakan ajakan berkelahi dengan si Kacak. Ia ingat pada perkataan
guru ngajinya yang selama ini mengajarinya Silat Padangan. Guru ngajinya
berkata bahwa ilmu silat yang Midun pelajari tidak boleh digunakan untuk hal
hal yang tidak penting dan hanya boleh digunakan apabila Midun terdesak oleh
orang yang menyerangnya serta untuk menolong orang orang yang membutuhkan
pertolongan, begitulah pesan guru ngaji si Midun tentang ilmu silat yang beliau
ajarkan.
Suatu
hari istri si Kacak secara tidak sengaja hampir terjatuh ke sungai dan tanpa
disengaja disana ada si Midun. Namun karena Midun terlambat menolongnya
akhirnya istri si Kacak pun terjatuh ke sungai. Meskipun begitu dengan cepat
Midun langsung menolongnya karena istri si Kacak hampir terbawa arus sungai.
Melihat midun sedang menggendong istri si Kacak, Kacak pun terbakar cemburu.
Apalagi saat itu istri si Kacak ke sungai guna membersihkan diri eh tiba tiba
istri si Kacak sedang di gendong Midun. Lalu Kacak pun membuat fitnah tentang
Midun kepada masyarakat bahwa Midun telah memperkosa istrinya. Dengan penuh
emosi Kacak pun kembali menantang Midun untuk berkelahidengannya satu lawan
satu.
Karena
merasa bahwa dirinya di fitnah dan dijatuhkan harga dirinya, Midun pun akhirnya
menerima ajakan Kacak untuk berkelahi. Dan akhirnya Midun menang lagi dan Kacak
pun kalah. Kacak yang kalah pun semakin marah dengan si Midun. Akhirnya Kacak
melaporkan itu semua kepada pamannya, Tuanku Laras.
Kacak
memberikan informasi informasi palsu tentang si Midun, serta segala fitnah dia
katakan kepada pamannya tersebut. Namun Tuanku laras tetap mempercayai apa yang
keponakannya itu katakan tentang si Midun. Dan akhirnya Midun pun mendapatkan
hukuman dari Tuanku Laras, yaitu bahwa ia harus bekerja di rumah Tuanku Laras
tanpa dibayar sedikit pun. Dan yang di tugaskan Tuanku Laras untuk mengawasi si
Midun ialah Kaca. Kesempattan itu tak disia siakan oleh si Kacak untuk
dimanfaatkannya sebagai ajang balas budi kepada si Midun. Selama Midun di
hukum, ia selalu disiksa oleh si Kacak. Pukulan dan tendangan ia rasakan setiap
hari. Serta hinan dan makian selalu dilotarkan Kacak kepada si Midun. Akhirnya
dengan sabr si Midun menerima itu semua. Dan ia tak bisa berbuat apa apa karena
ia sedang mendapathukuman. Namun memang sifat picik Kacak, ia belum saja puas dengan
penderitaan Midun meskipun Midun telah mendapat hukuman dari Tuanku Laras.
Kacak belum puas apabila melihat Midun masih saja ada di Kampungnya. Karena
jika si Midun masih ada di kampungnya. Midun masih bisa menghalangi Kacak untuk
bersifat semena menaterhadap warga kampungnya.
Kacak
akhirnya menemukan cara untuk menghilangkan Midun dari kampungya. Kacak
akhirnya menyewa beberapa orang untuk membunuh si Midun. Tentunya yang Kacak
sewa ialah pembunuh bayaran. Rencana membunuh Midun dilaksanakan pada saat
diadakannya lomba pacuan kuda. Saat Midun bersama sahabatnya yang bernama Maun
sedang membeli makanan di warung kopi sebelah gerbang pintu masuk lomba pacuan
kuda, tiba tiba beberapa orang menghampirinya dengan membawa pisau mereka
menyerang Midun dan Maun.
Akhirnya
Midun pun memakai beladirinya untuk berkelahi melawan pembunuh pembunuh
tersebut Perkelahian pun akhirnya terhenti,ketika datang polisi untuk
mengamankan Midun dan Maun. Akhirya si Midun dan si Maun pun ditangkap dan di
giring ke kantor polisi. Dalam pemeriksaan, Maun dinyatakan bebas. Namun Midun
harus mendekam di penjara. Kacak yang mendengar berita tersebut bahagianya
bukan kepalang karena orang yang ia rasa sebagai musuh terbesarnya telah masuk
penjara dan kini ia tak merasa was was lagi karena niat jahatnya pada warga
kampung pasti akan berjalan dengan amat sangat mulus.
Awalnya
para tahanan lain bertindak semena mena terhadap si Midun. Namun semenjak Midun
mengalahkan orang terkuat di penjara tersebut. Maka seluruh tahanan disana menghormati
dan menjadikan Midun sebagai sahabat.
Suatu
hari ketika Midun sedang menyapu jalan tak sengaja Midun melihat sesosok gadis
yang sangat cantik. Lalu saat itu Midun langsung saja menghampiri gadis
tersebut dan tiba tiba gadais itu pergi meninggalkan si Midun. Tiba tiba Midun
melihat sebuah kalung tertinggal di bawah pohon tempat gadis tadi bernaung.
Kemudian Midun mencari tau siapa pemiliknya dan mengembalikannya ke rumah gadis
itu. Lalu sepertinya Midun dan gadis tersebut saling suka. Gadis itu bernama
Halimah. Setelah lama kenal akhirnya mereka saling bercerita tenang pengalaman
hidup masing masing. Dan ternyata Halimah tinggal bersama ayah tirinya,dan itu
membuat dirinya merasa terkekang.
Setelah
keluar dari penjara, Midun membawa Halimah pergi dri rumah ayah tirinya menuju
rumah ayah kandungnya.
Setelah
sampai di rumah ayah kandung Halimah di Bogor. Midun tahu kalu ayah kandung
Halimah amatlah baik hati dan penyayang terhadap siapapun. Ayah Halimah pun
meminta Midun dan Halimah tetap tinggal di rumah ayah Halimah. Karena Midun tak
punya pekerjaan, Midun merasa tak nyaman dan memutuskan untuk mencari pekerjaan
di Jakarta. Dalam perjalanan Midun berkenalan dengan saudagar kaya yang berasal
dari Arab. Namun teryata saudagar kaya itu ialah seorang rentenir. Dengan
segala tipu rayu akhirnya Midun pun menerima uang pinjaman Syekh Abdullah Al
Hadramut. Dan akhirnya Midun pun memanfaatkan uang tersebut untuk berdagang.
Dengan usaha yang melaju sangat pesat. Akhirnya Syekh Abdullah Al Haadramut
menjadi sangat iri dan akhirnya ditagihlah hutang Midun dengan jumlah yang
sangat berlipat lipat. Karena Midun tak mau membayarnya, Syekh Abdullah
mengganti tawarannya agar Midun bersedia apabila Syekh Abdullah Al Hadramut
memperistri Halimah. Midun pun semakin yakin untuk menolak tawaran tawaran yang
diajukan Syekh Abdullah Al Hadramut. Maka Syekh Abdullah pun akhirnya
memejahijaukan si Midun. Dan sekali lagi Midun di uji untuk masuk bui kedua
kalinya.
Setelah
bebas dari rumah pesakitan tersebut Midun berjalan jalan di pasar baru. Disana
ia melihat Sinyo belanda diserang pribumi yang sedang mengamuk. Langsung saja
Midun mencoba menyelamatkan sinyo belanda tersebut,dan berhasil. Sinyo belanda
itupun berterima kasih banyak atas bantuan Midun kepadanya.
Setelah
peristiwa tersebut akhirnya Midun dikenalkan dengan ayah sinyo belanda tersebut
yang ternyata seorang Komisaris. Sebagi Ucapan terimakasih karena telah
menolong anaknya, Pak Komisaris tersebut memberi Midun sebuah pekerjaan. Hingga
berujung pada kemapanannya,akhirnya Midun melamar Halimah dan menikah di Bogor,
rumah ayah Halimah.
Karena
Prestasinya yang melonjak. Ia menjadi Kepala Mentri di Tanjung Priok. Lalu
Midun dipindah tugaskan di Medan. Saat di Medan itulah ia bertemu dengan
adiknya, dan adiknya pun bercerita panjang lebar tentang kampung halaman dan
orang tua mereka berdua. Adiknya bercerita bahwa keluarga mereka menderita
karena ulah Kacak semenjak Midun pergi. Akhirnya Midun pun turun tangan dengan
meminta dipindahkan ke kampung halamannya. Saat itu Kacak yang berprofesi
sebagai penghulu dan sering menyelundupkan uang negara kaget bukan kepalang.
Kacak pun amat ketakutan karena Midun telah kembali. Dan dengan kecerdikan
Midun tak lama berselang segala bentuk tindak korupsi Kacak terungkap. Akhirnya
Kacak pun mendapat hukuman dan kehidupan di kampung halaman Midun menjadi damai
kembali

11 komentar:
siip iki digawe garap tugas b.indonesia
resensinya bagus , sudah lengkap dan paham , hhe . jadi tidak perlu meminjam cerita itu . cukup baca disini saja :D
@santai saja !! boleh boleh silahkan..
@nanda restanena ok makasih,tapi lebih baik kalau ada waktu baca deh yang asli novel
bagus novelnya..
gak pernah baca novelnya gak terkenal
@slamet widodo memang bener bagus kok, dengan seting cerita khas melayu
@Muhammad alam pasirulloh memang jarang di pasaran karena itu novel angakatan 20an,tapi inti novel novel angkatan 20an,30an,45,66 masih lebih berisi dibanding novel teenlit jaman sekarang
bagus nih sinopsisnya, meskipun bukunya tebal, jd cuman beberapa paragraf aja, kata2nya jg gk membingungkan :D
@arya putra kusumawardana makasih sudah membaca artikel ini,saya anjurkan coba anda baca buku aslinya pasti lebih terasa gaya ke khas-an novel 20an-nya
@rafliliya putra makasih,tapi yang lebih patut untuk mendapatkan apresiasi adalah sang penulis novel tersebut, Tulis Sutan Sati
wahh... postnya bantu bgt buat yg dapet tugas bahasa indonesia. disini sudah lengkap ^^
Sama aku juga
Posting Komentar